"Kamu gak mungkin bisa jadi dokter mira", tiba tiba buya (red: ayah) nyeletuk begitu sambil menghentikan mobil tepat di depan gerbang sekolah. Kami terdiam beberapa detik. Aku adalah siswi seorang murid madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Medan mendengar kalimat yang sangat sangat membuat down begitu hatiku ibarat luka dicampur air garam. Perih yang semakin dalam.
Tatapan ku kosong kedepan, begitu juga buya ku. Kami ibarat dua manusia yang tidak saling mengenal. Padahal hubungan darah erat diantara kami.
"Kenapa buya Berkata seperti itu", tanyaku perlahan dan berat.
"Ntahlah.. buya berfikir kamu lemah mira untuk menerima pelajaran", jawab buya dengan nada kecewa.
Wajar, ketika buya mengatakan hal itu, karena tiap x pembagian rapot, semua nilai ku jelek, tidak ada yang bagus, mendapat ranking 20 an dari 44 siswa saat itu, dan tiap pembagian rapot berulang x pula aku berjanji pada umi buya akan selalu memperbaikinya tapi tidak pernah ku tepati janji itu, karena tiap pembagian rapot pula nilai dan rangking selalu menurun.
Dan lagi ku katakan wajar jika orang tua pun pasrah dan kecewa untuk hal buruk yang sebenarnya aku pun tidak menginginkannya.
Pernah saat itu aku sampai ketakutan memberi tahu umi bahwa nilai ku jelek lagi, padahal saat itu beliau sedang di tanah haram, gimana perasaan nya ketika tahu lagi dan lagi anak nya membohongi dirinya? ahh perasaan ku campur aduk kala itu.
Kasihan umi, harapan besar terhadapku pupus sudah. Tidak mungkin Lah seorang namira yang nilai selalu jelek, tidak punya kreativitas apapun, jadi seorang dokter? itu sangat imposible. Banyak yang bilang begitu.
Aku, adalah sosok anak yang tidak pedean, suka menyendiri, tidak punya banyak teman, pemalu, susah menghapal, tidak show up, tidak pintar, bisa nya cuma merenung dan memantau saat itu.
Lagi dan lagi wajar, jika keluarga bahkan orang tua sendiri pun berfikir demikian bukan?
Yah benar adanya, sampai akhir sekolah Menengah pertama pun nilai ku begitu begitu saja, begitu juga saat SMA tidak ada perubahan yang signifikan, begitu begitu juga, manusia rata rata (walaupun sekarang masih standar rata rata).
Pada akhirnya kondisi yang merubah ku dan memaksa ku untuk berubah. Kedua orang tua meninggal muda karena sakit yang diderita..
Hai ira kamu emang ga bisa begini begini saja. km uda ga punya orang tua loh, siapa yang bisa engkau banggakan lagi? nah loh semua orang sudah tidak perduli sama mu?saat itu aku sedang muhasabah dan aku berbicara dengan diri sendiri.
Jangan kan negor, mereka pun sudah tidak menoleh mu lagi. Karena engkau sekarang ibarat sampah yang ga punya pegangan! ayo sadar donk.
Ahh menampar diri sendiri ternyata lebih sakit dari pada ditabok pakai tangki gede!!
Tahun 2007 tamat SMA, ga sadar diri, ngambil jurusan FK UI dan FK USU gimana bisa lulus duh duh duh duh!!!
Tak lulus kedua nya, akhirnya nyoba D3 ilmu komputer USU, akhirnya lulus.
Ahh kayaknya kalau cuma jadi Ini doank susah juga menaikkan harkat martabat ku, gumam hatiku.
Akhirnya selama setahun full aku belajar dari nol lagi. Belajar dari awal. Ngambil kursus intensif selama setahun, sambil kuliah juga.
Pagi les di Medica, siang les di SSC, malam nya les bahasa inggris. Setiap hari bangun jam 3 pagi, langsung belajar, pagi sudah berangkat les pulang malam jam 10, lanjut belajar sampai jam 1 malam, tidur jam 01.00 s.d 03.00, all day begitu. Tidak pernah tidur siang, tidak pernah nonton tv ( apalagi bioskop), selalu berkutat dengan buku, potokopi puluhan buku 10 tahun terakhir, diulang ratusan kali, sampai sampai titik koma pun hapal...Masya Allah ingat semua Ini jadi mewek hiks hiks!
Akhirnya saat ujian nyantai banget, udah hapal jawabannya, kagak perlu nyari nyari lagi. Ada beberapa soal soal yang berulang. ALHAMDULILLAH..
Saat hasil akhir, ternyata lulus juga. Seorang anak yang dulu nya biasa biasa saja, sangat biasa, bahkan dapat dibilang urutan terakhir di kelas akhirnya bisa juga lulus langsung di dua Universitas negeri di Indonesia, yaitu Kedokteran USU Medan dan Kedokteran UNHAS Makasar.
Awalnya ingin ambil yang di Makasar Tapi karena keinginan keluarga akhirnya mengambil yang di Medan saja.
Nah tidak bermaksud sombong, tetapi disini saya membuktikan bahwa jangan sepele terhadap seseorang yang kita lihat biasa saja, karena kita tidak tahu masa depan itu bagaimana.
Dan untuk teman teman yang merasa biasa aja jangan rendah diri, karena takdir itu bisa diubah loh asal ada ikhtiar dan selalu doa sama Allah.
Ohya perjuangan Ini bukan hanya karena giat Tapi ada hal yang lebih besar lagi yaitu doa, dan rayu Allah dulu, mengerjakan semua yang Allah senangin nah baru dah usaha nya. bener!!
Perkataan buya ku dulu adalah salah satu motivasi besar untuk hidup ku dan bukan menjadikan ku lemah, tetapi sebagai cambukan bahwa aku bisa lebih dari engkau buya!
Sekali lagi ku tekan kan, takdir itu bisa diubah. Jadi jangan pasrah terhadap takdir mu.
Sekian ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar