Anak Rantau, Waspada Makanan Halal & Haram di Jakarta.
-------------------------------------------------
Cermati sebelum membeli, mungkin istilah itu sebagai gambaran kita dalam melakukan berbagai macam hal, terlebih soal urusan perut. Jika salah pilih tentu bukan makanan halal yang didapat namun sebaliknya.
Bagi sebagian orang, Kota Jakarta menjadi daerah paling aneh dalam mencari titik destinasi kuliner untuk sekedar mengganjal isi perut lapar dengan label halal, bukan karena jarang restoran tapi karena minimnya informasi label halal, apalagi bagi yang baru menginjakan kaki di tanah Metropolitan, mencari tempat kuliner baik tentu sangat kesulitan.
Kesan risih, takut tentu sangat kontras ketika masuk kesalah satu restoran tanpa label halal, seperti pengalamanku beberapa waktu silam di Jakarta, bagaimana tidak salah seorang teman secara tiba-tiba mengajak ke suatu tempat makan tanpa label halal, tak satupun tulisan di areal restoran tersebut terlihat logo MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menyatakan bahwa tempat tersebut benar-benar lolos uji kelayakan, praktis hati dan pikirin seketika berontak dan bertanya tanya, apakah tempat ini halal atau haram ?
Untuk memastikan aman atau tidak aku pun kemudian mencoba langsung menanyakan kepada sang penjual dan memastikan bahwa makanan yang dijual adalah halal bukan seperti apa yang terbesit di pikiranku saat itu.
"Maaf mas, mas Muslim? Apakah ini halal?,"Tanyaku Kepada sang Penjual sebut saja Donlesi.
"Halal dong mba, saya muslim loh, kalau enggak percaya liat KTP saya nih"Ujar Donlesi dengan nada lembut.
Karena bicara makanan halal haram adalah soal prinsip, aku pun terus bertanya dan mencari tahu kepada Donlesi apa alasan tempat jualannya tidak terdapat logo halal.
"Oh iya mas, kenapa enggak dibuat ada bacan bismillah, atau pertanda apa gitu yang memastikan kalau tempat ini tuh halal,"tambahku menimpali.
Jawaban Donlesi pun seadanya dan beralasan bahwa tidak di tempelnya label halal karena khawatir makanan yang dijual tidak laku alias jarang diminati pembeli sehingga dibiarkan polos tanpa label halal ditempat daganganya.
"iya mbak soalnya dilarang bos saya, katanya Nanti makanannya enggak laku,"Ungkap Donlesi.
Setelah puas dan yakin bertanya tanya kepada sang penjual kemudian aku kembali duduk bersama temanku sebut saja dia SN (bukan setya Novanto loh). Dia pun langsung mengatakan kepadaku.
"Sudahlah Namira, kamu jangan buat malu aku seperti itu,"kata SN (Bukan Setya Novanto).
Aku Speechless banget saat itu...
Mungkin karena kebiasaan aku, kalau makan di Medan pasti harus memastikan yang jualan muslim sehingga wajar ketika tidak ada tanda Halal bertanya. Namun SN malah menyatakan hal kontroversial dihadapanku.
"nah apa yang ku bilang Namira, rata-rata disini yang jualan muslim semua, Gak usah di tanya lagi. Kalaupun ga halal, baca bismillah saja, Allah pun paham,"Tambah SN sambil sruput air.
"are u Crazy?? Kita ini bukan sedang di hutan atau di gunung, bukan juga di padang pasir yang Allah maklum untuk semua ini. Kita ini sedang berada di tempat yang banyak makanan halal, tidak ada pemakluman untuk ini, ketika baca bismillah kemudian semua menjadi halal"Jawab ku kesel sambil lempar gelas, mangkok, piring...lohh
Hampir setengah jam aku berdebat dengan SN yang menurutku pemikirannya tentang agama masih sangat minim bahkan cenderung sekuler akibat minimnya pemahaman.
Namun Untuk kasus seperti ini, aku tidak bisa mentolelir, karena ini bicara prinsip, orang disini, iya, Tapi bagiku tidak, Ini sesuatu yang besar tentu secara tidak langsung akan berdampak ke hal lainnya.
Jadi yang aku lihat dan amati disejumlah tempat kuliner di Jakarta
tidak terdapat beberapa tulisan kaligrafi, ataupun lebel halal sehingga sering kali bagi kalangan muslim kesulitan terlebih saat pertama kali datang.
Apalagi didalam mall, Beegghhhh kacau dah.. Susah bedain nya. Dan ini bukan satu kali, tapi sering sekali Jadi yang harus diperhatikan ketika mencari makanan halal dan haram di Jakarta adalah :
1. Tidak perlu malu untuk bertanya kepada penjual apa bahan bahan dasar pembuatan makanan tersebut, pastikan tidak ada bahan yg haram, tidak perlu takut karena itu hak kita untuk tahu, tetapi yang harus diperhatikan adalah teknis/cara bertanya nya saja, insya ALLAH si penjual tidak akan tersinggung.
2. Memastikan kalau di tempat/warung makan tersebut ada tulisan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an atau nama-nama Allah seperti asmaul husna. Dengan ini kita bisa lebih yakin kalau tempat makan tersebut halal.
3. Jika berada di mall maka cari reatauran yang sudah ada lebel HALAL dari Majlis Ulama Indonesia (MUI). Jika ada restauran yang masih asing kita dengar sebaiknya jangan makan disana.
4. Makan di warteg atau warung/restauran Padang/Minang. Biasanya yang jual pasti muslim dan dijamin halal karena hampir 100% orang Padang itu muslim. Sekali lagi, ini adalah hal yg kecil dan kelihatan sepele yg tidak bisa di tolerir.. Utk hal hal yg kelihatan sepele seperti ini utk Islam aja kita abaikan, gimana utk hal hal yg besar bisa kita korbankan??
-------------------------------------------------
Cermati sebelum membeli, mungkin istilah itu sebagai gambaran kita dalam melakukan berbagai macam hal, terlebih soal urusan perut. Jika salah pilih tentu bukan makanan halal yang didapat namun sebaliknya.
Bagi sebagian orang, Kota Jakarta menjadi daerah paling aneh dalam mencari titik destinasi kuliner untuk sekedar mengganjal isi perut lapar dengan label halal, bukan karena jarang restoran tapi karena minimnya informasi label halal, apalagi bagi yang baru menginjakan kaki di tanah Metropolitan, mencari tempat kuliner baik tentu sangat kesulitan.
Kesan risih, takut tentu sangat kontras ketika masuk kesalah satu restoran tanpa label halal, seperti pengalamanku beberapa waktu silam di Jakarta, bagaimana tidak salah seorang teman secara tiba-tiba mengajak ke suatu tempat makan tanpa label halal, tak satupun tulisan di areal restoran tersebut terlihat logo MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menyatakan bahwa tempat tersebut benar-benar lolos uji kelayakan, praktis hati dan pikirin seketika berontak dan bertanya tanya, apakah tempat ini halal atau haram ?
Untuk memastikan aman atau tidak aku pun kemudian mencoba langsung menanyakan kepada sang penjual dan memastikan bahwa makanan yang dijual adalah halal bukan seperti apa yang terbesit di pikiranku saat itu.
"Maaf mas, mas Muslim? Apakah ini halal?,"Tanyaku Kepada sang Penjual sebut saja Donlesi.
"Halal dong mba, saya muslim loh, kalau enggak percaya liat KTP saya nih"Ujar Donlesi dengan nada lembut.
Karena bicara makanan halal haram adalah soal prinsip, aku pun terus bertanya dan mencari tahu kepada Donlesi apa alasan tempat jualannya tidak terdapat logo halal.
"Oh iya mas, kenapa enggak dibuat ada bacan bismillah, atau pertanda apa gitu yang memastikan kalau tempat ini tuh halal,"tambahku menimpali.
Jawaban Donlesi pun seadanya dan beralasan bahwa tidak di tempelnya label halal karena khawatir makanan yang dijual tidak laku alias jarang diminati pembeli sehingga dibiarkan polos tanpa label halal ditempat daganganya.
"iya mbak soalnya dilarang bos saya, katanya Nanti makanannya enggak laku,"Ungkap Donlesi.
Setelah puas dan yakin bertanya tanya kepada sang penjual kemudian aku kembali duduk bersama temanku sebut saja dia SN (bukan setya Novanto loh). Dia pun langsung mengatakan kepadaku.
"Sudahlah Namira, kamu jangan buat malu aku seperti itu,"kata SN (Bukan Setya Novanto).
Aku Speechless banget saat itu...
Mungkin karena kebiasaan aku, kalau makan di Medan pasti harus memastikan yang jualan muslim sehingga wajar ketika tidak ada tanda Halal bertanya. Namun SN malah menyatakan hal kontroversial dihadapanku.
"nah apa yang ku bilang Namira, rata-rata disini yang jualan muslim semua, Gak usah di tanya lagi. Kalaupun ga halal, baca bismillah saja, Allah pun paham,"Tambah SN sambil sruput air.
"are u Crazy?? Kita ini bukan sedang di hutan atau di gunung, bukan juga di padang pasir yang Allah maklum untuk semua ini. Kita ini sedang berada di tempat yang banyak makanan halal, tidak ada pemakluman untuk ini, ketika baca bismillah kemudian semua menjadi halal"Jawab ku kesel sambil lempar gelas, mangkok, piring...lohh
Hampir setengah jam aku berdebat dengan SN yang menurutku pemikirannya tentang agama masih sangat minim bahkan cenderung sekuler akibat minimnya pemahaman.
Namun Untuk kasus seperti ini, aku tidak bisa mentolelir, karena ini bicara prinsip, orang disini, iya, Tapi bagiku tidak, Ini sesuatu yang besar tentu secara tidak langsung akan berdampak ke hal lainnya.
Jadi yang aku lihat dan amati disejumlah tempat kuliner di Jakarta
tidak terdapat beberapa tulisan kaligrafi, ataupun lebel halal sehingga sering kali bagi kalangan muslim kesulitan terlebih saat pertama kali datang.
Apalagi didalam mall, Beegghhhh kacau dah.. Susah bedain nya. Dan ini bukan satu kali, tapi sering sekali Jadi yang harus diperhatikan ketika mencari makanan halal dan haram di Jakarta adalah :
1. Tidak perlu malu untuk bertanya kepada penjual apa bahan bahan dasar pembuatan makanan tersebut, pastikan tidak ada bahan yg haram, tidak perlu takut karena itu hak kita untuk tahu, tetapi yang harus diperhatikan adalah teknis/cara bertanya nya saja, insya ALLAH si penjual tidak akan tersinggung.
2. Memastikan kalau di tempat/warung makan tersebut ada tulisan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an atau nama-nama Allah seperti asmaul husna. Dengan ini kita bisa lebih yakin kalau tempat makan tersebut halal.
3. Jika berada di mall maka cari reatauran yang sudah ada lebel HALAL dari Majlis Ulama Indonesia (MUI). Jika ada restauran yang masih asing kita dengar sebaiknya jangan makan disana.
4. Makan di warteg atau warung/restauran Padang/Minang. Biasanya yang jual pasti muslim dan dijamin halal karena hampir 100% orang Padang itu muslim. Sekali lagi, ini adalah hal yg kecil dan kelihatan sepele yg tidak bisa di tolerir.. Utk hal hal yg kelihatan sepele seperti ini utk Islam aja kita abaikan, gimana utk hal hal yg besar bisa kita korbankan??

Masukkan komentar Anda...mantap, sangat bermanfaaat...
BalasHapus